News

Loading...

Selasa, 26 Oktober 2010

Kisah Ajisaka dan Honocoroko


Kisah Ajisaka dan Honocoroko
( Kisah Ajisaka dan Honocoroko )

Ajisaka bersama punggawanya Dora dan Sembada
Pada jaman dahulu, di pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang satria mempunyai dua orang punggawa ; Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pimpinannya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelana meninggalkan pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di pulau Majethi, dan diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.
Ajisaka menitipkan pusakanya 
(Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka.Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.)

Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat Negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan, rajanya bernama prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami  kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki juru masak tidak menyadari bahwa potongan jari tersebut tercebur kedalam hidangan  hidangan yang akan disuguhkan kepada sang prabu. ketika  tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, sang prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus sang patih untuk menanyai ki juru masak . setelah  mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang prabu lalu memerintahkan sang patih agar setiap hari mengahturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan yaitu menyantap daging manusia. Wwataknya berbalik seratuh delapan puluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang manganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah angker dan sepikarena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang patihpusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.
(Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan.Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai  Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri.  Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.)

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya Dora, tiba di Medhangkamulan. Heranlah sang satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. setelah mendapatkan keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya sang patih tidak mengizinkan karena merasa saying bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap sang prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap sang prabu. Disamping itu harus sang prbau sendir yang mengukur wilayah  yang akan di hadiahkan tersebut. Sang prabu menyanggupi permintaanya, Ajisaka kemudian mempersilahkan sang prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tidak ada habisnya. Sang prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga sang prabu terlempar jatuh kelaut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Dewatacengkar dan Ajisaka
Dewatacengkar terpental
ikat kepala Ajisaka
(Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. klawan punggawane, Dora, tumeka ing Medhangkamulan. Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap  Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan  Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila  Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun   Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda  mau  menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya.  Ajisaka  mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh  ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.)



Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke pulau Majethi, D Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka oleh Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena iaberpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan puklau Majethi agar tidak memberikan pusaka selain Ajisaka. Dora yang juga melaksanakan perintah sang prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas. Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orangyang dikasihinya itu, yang bunyinya sebagai berikut :
(Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus  Dora pergi kembali ke  Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di  Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka  Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah  Ajisaka ketika meninggalkan  Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah  Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas. 
Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, yang bunyinya adalah sebagai berikut:)



ha     Na       Ca       Ra       Ka
Ha
Na
Ca
Ra
Ka
Ana utusan ( ada utusan )


Da       Ta       Sa   Wa       La
Da
Ta
Sa
Wa
La
Pada kekerengan (saling berselisih pendapat)

Pa   Dha     Ja       Ya       Nya
Pa
Dha
Ja
Ya
Nya
Padha digdhayane (sama-sama sakti)

Ma       Ga       Ba       Ta       Nga
Ma
Ga
Ba
Tha
Nga
Padha dadi bathange (sama-sama menjadi mayat)



Demikian sekilas cerita bagaimana Ajisaka datang ke jawa dan sejarah penulisan huruf jawa ( Honocoroko ) bermula.

Jika ada kesalahan penulisan atau ada kekurangan mohon maaf sebesar-besarnya.

NB: dari berbagai sumber,. Picture from : sanggarwati.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar